her’s power…

Posted in Uncategorized on Desember 24, 2009 by emosidjiwa

“where are we going mommy?” gadis kecil itu bertanya kepada ibunya yang menuntunnya berjalan ke suatu tempat.

“we’re going to the hospital my dear,” jawab ibunya seraya tersenyum.

“are we gonna visit someone sick?”, tanya gadis yang sangat penasaran itu.

“no, my dear. we’re going to chek you up.” jawab wanita itu buru-buru. Sebenarnya wanita itu ingin sekali menghindar dari pertanyaan-pertanyaan putrinya itu. Namun ia tak mampu melakukan apapun selain menjawab semua pertanyaan putrinya.

“but I’m not sick. Why we should go to the hospital?”

Akhirnya wanita itu hanya tersenyum dan meneruskan langkahnya menuju rumah sakit.

@@@

“THAT’S ENOUGH..!!”

Terdengar teriakan dari dalam kamar di ujung lorong. Ternyata itu merupakan suara teriakan dari suaminya yang marah.

“what’s happened?” tanyanya pada suaminya yang bertubuh besar itu.

“I’m not gonna taking care of that pathetic boys anymore..!!” jawab suaminya marah.

“you don’t want to taking care of him?? Then who will??” teriaknya

“I DON’T CARE! I’m so tired with that boy. He even spill out the meals I gave him!” teriak suaminya sambil meninggalkan rumah dan pertengkaran itu pun diakhiri dengan bunyi gebrakan pintu yang sangat keras.

Wanita itu pun terduduk dan menangis lemas. Ia sama sekali tak mengira kalau suaminya akan meninggalkan dirinya sendirian untuk mengasuh kedua anaknya yang masih kecil dan menderita penyakit. Perlahan ia berjalan menuju kamar anaknya di ujung lorong. Dengan lembut ia membelai kepala anaknya yang masih terdapat bekas jahitan tersebut. Dan dengan perlahan ia mendekatkan mulutnya ke telinga anaknya dan membisikkan sesuatu.

“Take some rest dear. I will always take care of you. And I’m not gonna leave you.”

@@@

Malam ini, Wanita itu duduk terpaku di tempat tidurnya yang temaram sambil memegangi sebuah pigura kayu yang telah usang. Sesekali ia menyeka air mata yang jatuh sambil terus memandangi foto yang ada di pigura itu. Dalam pigura itu terdapat foto seorang anak laki-laki yang sedang duduk di bebatuan, dan dibelakangnya terlihat sebuah rumah bergaya old Victorian yang merupakan rumah yang ia tempati sekarang. Anak laki-laki yang ada di dalam foto itu adalah anaknya yang meninggal 3 tahun lalu. Ia meninggal karena menderita suatu penyakit yang menyerang otaknya. Suatu penyakit yang secara perlahan-lahan mengambil kemampuan anaknya. Secara bertahap anak itu kehilangan kemampuannya untuk berjalan, berbicara, mendengar, dan lama kelamaan bahkan ia kehilangan kemampuannya untuk menelan makanan.

Hingga suatu sore, ketika ia sedang memandikan anak lelakinya itu, tiba-tiba tubuh anaknya tersebut tak bergerak. Tubuhnya kaku, dan matanya terpejam layaknya orang yang tertidur. Namun ketika ia merasakan tidak ada lagi nafas yang terhembus dari hidung anaknya, maka pecahlah tangis wanita itu. Sembari memeluknya, wanita itu pun menangis dan meratap-ratap kepergian anaknya.

Mengenang hal itu, air matanya kembali mengalir dengan deras. Ia seringkali mengeluhkan ketidak adilan Tuhan kepadanya. Ia diberikan sepasang putra dan putri yang sangat lucu, namun ia harus kembali kehilangan putranya. Dan sekarang putrinya pun diberikan penyakit yang sangat aneh. Di seluruh kulitnya terdapat bintik-bintik putih seperti orang sakit kulit yang disebabkan oleh jamur. namun setelah diperiksa ke seluruh dokter kulit yang ada, tak ada yang mengetahui jenis penyakit apa yang di idap putrinya. Bintik-bintik tersebut memenuhi hampir seluruh tubuhnya, tangan, kaki, punggung, bahkan sebagian wajahnya.

Sudah hampir selusin rumah sakit ia datangi untuk menyembuhkan kelainan pada kulit anaknya tersebut. Namun tak satu pun yang memberikan hasil yang memuaskan. Bahkan ia sempat membawa putrinya dan mengambil sedikit kulitnya melalui pembedahan kecil untuk diperiksa di laboratorium. Namun ia kembali mendapatkan hasil yang nihil. Para dokter kembali menyatakan bahwa penyakit yang diderita anaknya belum pernah diketahui sebelumnya dan belum ada pengobatan untuk itu.

“why are you crying mommy?” suara gadis kecilnya yang mengintip di pintu mengagetkannya. Dan dengan segera ia menghapus air matanya.

“I’m okay honey. I’m just thinkin about you. And your desease.” Jawabnya seraya memeluk malaikat kecilnya itu.

“but I’m not sick mommy. I’m so fine.”

“yes darling. You are.”

“mommy,”

“yes darl,”

“even though my skin is different from others, but inside my heart I’m just the same. And I will show you that I can achieve anything I want.”

Mendengar hal itu dari mulut seorang gadis kecil yang berusia 6 tahun, tangis wanita itu pun pecah. Anak sekecil itu ternyata mempunyai hati yang besar. Dan mulai saat itu, ia tak pernah lagi mengeluhkan semua kesusahan yang menimpanya.

@@@

“And Please welcome, our Pulitzer Award Winner, Adelaide”

Dan ruangan pun menjadi gemuruh dengan tepuk tangan ketika gadis kecilku memasuki ruangan. Dan ketika ia sampai di podium seisi ruangan pun sunyi, seakan-akan tak sabar menunggu kata-kata dari malaikat kecilku itu. Aku pun hanya bisa tersenyum bangga melihat dirinya diatas podium.

“I wanna thank to my editor, friends, and everyone who have support me on this novel. And the most important is, I wanna thank to my Mommy. Who is struggle from the beginning of my life, alone. Even my awards would not enough to pay your love mom. I love you mom.”

Mendengar kalimat terakhirnya, aku pun tak dapat membendung lagi air mataku. Aku tak mampu lagi membendung rasa bangga ku terhadapnya. Dibalik kekurangannya, ia mampu mekar menjadi bunga yang harum. “I love you too dear, I love you to…”

@@@

Teruntuk ibuku sayang, ibu paling juara di dunia…..

Temaram Jingga [part 1.]

Posted in Uncategorized on November 26, 2009 by emosidjiwa

“Damn..!!”

Jingga langsung saja memaki dan membanting pintu sesampainya di kamar flatnya. Dengan kesal ia membanting ranselnya keatas tempat tidur yang berantakan itu. Dan dengan segera ia menuju kamar mandi untuk mengisi penuh bak plastik yang biasa digunakannya untuk menampung air. Setelah ia melepaskan seluruh pakaiannya, dan bak plastik besar itu terisi penuh,langsung saja ia mengangkat bak plastik itu dan menumpahkan seluruh isinya kebadannya. Di isi kembali bak plastic itu hingga penuh, dan kembali ia tumpahkan isinya kebadannya.

Kejadian yang menimpanya akhir-akhir ini memang membuatnya memiliki hobby baru : mandi dengan menyiramkan seluruh isi bak ke tubuhnya. Dengan mengalirnya air ditubuhnya, Jingga berharap air itu pun meluruhkan semua masalah dan kekesalan hatinya. Dan hari ini bahkan lebih buruk dari hari-hari sebelumnya.

Setelah puas membasahi tubuhnya, Jingga langsung menuju lemari untuk mencari pakaian bersih dan memakainya. Setelah mengganti baju dengan pakaian bersih, ia pun beranjak ke tempat tidurnya dan meraih ranselnya. Dikeluarkan notebook usangnya dan memindahkannya ke meja di sudut flatnya.

Flat yang ia tempati berukuran 4×3 meter dan jangan ditanya bagaimana berantakannya. Ruangan sempit itu juga masih harus berdesakkan dengan kamar mandi mini yang hanya terdapat satu bak plastic besar dibawah satu-satunya keran dan kloset jongkok diujungnya. Perabotan di kamar itu pun tak ingin kalah berebutan tempat. Tempat tidur kecil yang berada disudut ruangan yang bersebrangan dengan pintu masuk, dan sebuah meja kecil  setinggi pinggang diujung tempat tidur itu. Sedangkan lemari pakaian terletak didepan kamar mandi yang menempati sudut lain dari kamar itu. Meja kecil diujung tempat tidur itu sebenarnya merupakan meja yang dipergunakan untuk bekerja. Namun karena tidak ada tempat lagi untuk menaruh bangku dikamar itu maka JIngga harus duduk diujung tempat tidurnya jika ingin bekerja di kamarnya.

Setelah menyalakan notebook usangnya, Jingga kembali meraih ranselnya dan mencari-cari sketch book miliknya. Namun buku itu tidak ada didalam ranselnya, atau pun di meja kerjanya.

“Sial, pasti ketinggalan di kantor..!” gumamnya.

Terpaksa besok aku harus kembali ke kantor sialan itu. Mungkin sekalian saja aku menyerahkan surat pengunduran diriku.

***

Aku hanya mampu menatap nanar kearah meja yang berantakan itu. Aku benar-benar tak menyangka jika Jingga akan bereaksi seperti itu. Ya, aku memang sangat mengetahui bagaimana ia sangat menginginkan proyek ini. Sering kali kulihat dia bekerja sampai larut malam demi meyelesaikan desain animasi ini. Bahkan ketika pitching dengan vendor yang akan menggunakan jasa kami pun wajahnya masih mengguratkan kelelahan.

“Pak… Pak Yudha… Ini buku sketsanya mba Jingga ketinggalan.” Suara Samsul, salah satu office boy yang kusuruh untuk merapihkan meja Jingga mengagetkanku.

“oh taruh saja dimeja saya.” Jawabku singkat.

Aku hanya memperhatikan bahwa sesungguhnya meja yang berantakan itu tak jauh berbeda dengan hari-hari biasa. Hanya saja lebih…. Berantakan.

Jingga Trikencana sebetulnya merupakan salah seorang desainer terbaik di perusahaan ini. Hanya saja dia pribadi yang teledor, berantakan, dan seolah tak memperdulikan apa-apa. Bahkan untuk sekedar memperhatikan penampilannya sebagai wanita. Setiap datang ke kantor, ia hanya menggunakan jeans lusuh yang kelihatannya tidak pernah dicuci selama berbulan-bulan dan kaos oblong yang sudah pudar warnanya. Dan aku juga tak pernah melihat wajahnya diolesi bedak atau sekedar pelembab, layaknya wanita-wanita dewasa lainnya.

Namun secara pribadi Jingga merupakan sosok yang ceria. Seperti matahari pagi yang selalu membagikan sinarnya keseluruh dunia yang dirunding malam. Ia selalu datang kekantor dengan senyuman lebarnya yang khas dan selalu menyapa setiap orang yang di temuinya sepanjang koridor sampai ke mejanya. Bahkan disela-sela pekerjaannya yang menumpuk ia tak segan untuk bercanda dengan setiap orang yang melewati mejanya. Bagiku ia seperti matahari pagi yang membagikan semburat cahaya kegembiraan bagi semua orang.

Tetapi sore ini, setelah rapat penilaian, aku melihat matahari itu berubah temaram. Bahkan ia melihatkan badai ganas yang akan membanjir seketika. Belum pernah kulihat wajah Jingga semarah itu. Ia merasa seperti di khianati oleh dirinya sendiri.

Dan tanpa sepatah katapun ia langsung meninggalkan ruang rapat itu dengan muka yang memerah karena menahan amarahnya. Sejak itu yang kutemui hanyalah meja kerjanya yang berantakan dengan dokumen-dokumen yang sepertinya habis disapu badai kemarahan Jingga.

***

 

//ED//

isi hati tentang bintang

Posted in Uncategorized with tags on Oktober 14, 2009 by emosidjiwa

desau angin melewati jendela dan merasuki kamar ku yang sempit
bintang-bintang menghiasi langit malam, bersinar terang, tak terhitung jumlahnya
bintang-bintang itu seolah menghapus semua lelahku
menyeka semua air mata yang ada di diriku

jangan lah bersedih, katanya
karena bintang-bintang akan selalu ada bersamamu
memelukmu hingga kau terlelap dalam mimpimu

walaupun aku merasa sangat lelah untuk terus berjalan
dan walaupun airmata ini mengaburkan pandangan ku
aku kan terus tersenyum dihadapan cinta yang tak mungkin ku miliki
walaupun waktu yang kita lewati bersama terasa sangat singkat
ku kan terus mengenangnya di hatiku
seperti bintang yang terus berkilauan

selamanya….star

mimpiku menjadi nyata!
waupun aneh, tetapi BINTANGKU bersinar terang

sangat terang… bahkan membutakan
dia datang kepadaku
memintaku untuk berhenti bersedih
menyentuh tanganku

dan memelukku dengan penuh kehangatan

walaupun aku merasa sangat lelah untuk terus berjalan
dan walaupun airmata ini mengaburkan pandangan ku

aku kan terus tersenyum dihadapan cinta yang tak mungkin ku miliki
walaupun waktu yang kita lewati bersama terasa sangat singkat
ku kan terus mengenangnya di hatiku
seperti bintang yang terus berkilauan
selamanya…

hari ini aku tak kan menangis lagi!
walaupun mataku dipenuhi dengan air mata
aku hanya ingin tertawa seperti bintang-bintang…
aku hanya ingin mengenang kenangan indah bersama mu didalam hatiku
seperti bintang yang berkilau
selamanya….

//ED

Bicara tentang Tuhan

Posted in Uncategorized on Oktober 14, 2009 by emosidjiwa

suatu ketika, gue diskusi tentang Tuhan sama seorang temen cowo gw yg kebetulan beda iman sama gw.. sebut aja namanya a.. lalu tiba2 dia ngomong gini..
a: sekarang gini ya run, lo punya mata berapa?
gw: dua
a: mulut?
gw: satu
a: tangan?
gw: dua
a: gue juga sama, mata gw dua, mulut gw satu, tangan gw dua.. kalo Tuhan kita beda pasti mereka bakalan saingan dong.. Tuhan gw pasti maunya ciptain gw lebih baik dari lo dan Tuhan lo pun seperti itu..
gw: trus kalo tuhan kita sama kenapa kita nyembah Dia dengan cara yang beda?
trus dengan bijaknya dia jawab:
yang penting kita sudah nyembah dia run, bagaimanapun caranya Dia akan lebih senang karena kita masih menyembah dia dan menganggap dia ada.. bagaimanapun cara kita menyembah dia, yang penting kita sadar kalau kita adalah miliknya, dan pasti akan kembali padanya..

dari situ gue sadar kalo sebenernya kita semua itu sama.. ngga ada yang lebih baik dan ngga ada yang lebih buruk. seorang liberal seperti A saja bisa memandang tuhan seperti itu, lalu kenapa aku yang seorang muslim ini masih meragukan keberadaan Tuhan?

//ED//

Tulisan Pertama…

Posted in Uncategorized on Oktober 3, 2009 by emosidjiwa

There’s always a first time in every thing you do. Begitu juga dengan saya. Sebagai tulisan pertama ini hanyalah sekedar pengantar untuk tulisan-tulisan berikutnya. Juga sebagai latihan merangkak sebelum akhirnya bisa berjalan untuk menulis dengan sesungguhnya.

aku hanyalah setitik pasir yang berada di gurun

aku bukan lah sesuatu yang berarti

tapi aku ada disini

untuk memberikan seluruh emosi yang ada dihati…

chiao readers,

//ED//

Hello world!

Posted in Uncategorized on Oktober 3, 2009 by emosidjiwa

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!